Site Loader

Kebiasaan mulut yang buruk pada anak-anak dapat menyebabkan kerusakan gigi, kehilangan gigi dan kerusakan jaringan lunak mulut. Terdapat beberapa contoh kebiasaan mulut yang buruk terhadap anak; mengunyah objek keras seperti es, sering mengkonsumsi minuman soda, menggigit kuku, menyikat gigi terlalu keras, menghisap jari (thumb sucking) dan mengunyah gula permen. (Vanstrom,P.V, 2016)KariesKaries gigi terbentuk karena adanya sisa makanan yang menempel pada gigi, dan akhirnya menyebabkan pengapuran gigi. Dampaknya, gigi menjadi keropos, berlubang, bahkan patah. Karies gigi membuat anak mengalami kehilangan daya kunyah dan terganggunya pencernaan, yang mengakibatkan pertumbuhan kurang maksimal (Widayati, 2014).P2 : Statistics nowadays mengenai kasus kitaOral health &Kebiasaan burukKaries gigi secara historis telah dianggap komponen paling penting dari beban penyakit mulut global. Fasilitas kesehatan dan penyuluhan pendidikan kesehatan gigi sudah dilakukan, namun pengetahuan masyarakat mengenai karies gigi masih rendah. Menurut data survei  World Health Organization tercatat bahwa di seluruh dunia 60-90% anak mengalami karies gigi. Prevelensi tertinggi karies gigi pada anak-anak di Amerika dan kawasan Eropah, indeks agak rendah dari Mediterania Timur dan wilayah barat pasifik, sementara prevalensi terendah adalah Asia tenggara dan Afrika. Menurut WHO global oral health, indeks karies gigi global di antara usia 12 tahun dan rata-rata 1,6 gigi yang berarti rata-rata perorang mengalami kerusakan gigi lebih daripada satu gigi (WHO, 2003). Hasil Survei Riset Kesehatan  yang telah dijalankan di Indonesia pada tahun 2007, antara lain: pravelensi penduduk yang mempunyai masalah gigi mulut adalaj 23,4%, penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya adalah 1,6%, prevalensi nasional karies aktif adalah 43,4%, dan penduduk dengan masalah gigi-mulut dan menerima peerawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi adalah 29,6% (Persatuan Dokter Gigi Indonesia, 2010). Di Indonesia memiliki penderitaan karies gigi sebesar 50-70% dengan penderitaan terbesar adalah golongan balita (Department Kesehatan RI, 2010). Faktor semakin meningkatnya karies gigi pada saat ini adalah faktor perilaku masyarakat. Sebahagian masyarakat tidak mengambil berat dan memandang serius perihal kesehatan mulut dan gigi. Produktivitas semakin menurun disebabkan ketidaktahuan di kalangan masyarakat keranan pengaruh sakit yang dirasakan. Hal ini kerana menurunnya jaringan pendukung gigi. Karies gigi ini nantinya menjadi  sumber infeksi yang dapat mengakibatkan beberapa penyakit sistemik (Nurhidayat dkk., 2012). Kesan negatif yang muncul akibat karies gigi secara ekonomi adalah  semakin lemahnya produktivitas masyarakat. Jika yang mengalami anak-anak maka akan menghambat perkembangan anak sehingga akan menurunkan tingkat kecerdasan anak, yang seara jangka panjang akan berdampak pada kualitas hiidup masyarakat (Asse, 2010). Persoalan yang muncul di atas menjadi bahan pertimbangan daripada pihak pemerintah untuk melakukan upaya preventif. Berdasarkan Undang-Undang 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dalam pasal 93, dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk meningkatk dan memelihara tiingkat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehata gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobtan penyakit gigi, dan pemulihan kesehatan gigi oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah , dan atu masyarakat yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan. Ayat (2) menyatakan bahwa pelayanan tersebut dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan dan dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan gigi perseorangan, pelayanan kesehatan gigi masyarakat, usaha kesehatan gigi sekolah. Namun demikian yang menjadi persoalan yang berkaitan pelayanan adalah masih sangat sedikit penduduk yang dilayani oleh doktor gigi atau tenaga kesehatan. Mayoritas dokter gigi ada diperkotaan, sehingga masyarakat yang ada di pedesaan terkendala untuk aksesnya ke pelayaran. KariesIndonesia menghadapi tantangan yang signifikan dalam kaitannya dengan kesehatan mulut yang buruk pada anak-anak; masalah ini berlanjutan sampai usia remaja dan dewasa, bisa lebih dari 70% dipengaruhi oleh pengalaman yang berkaitan dengan karies gigi (Maharani et. al., 2017).P3 : Masalah nowadays mengenai kasus kitaOral healthDeklarasi Bali yang disampaikan pada Konferensi Kesehatan Oral ke-7 untuk anak-anak sekolah sedunia menyatakan bahwa penyakit mulut terutama karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di wilayah Asia dan menjadikan beban penyakit pada anak-anak yang menyebabkan dampak negatif yang signifikan pada kesehatan mereka dalam hal pertumbuhan, dan kesejahteraan sosial dan emosional. Oral health sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan umum orang karena dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas kehidupan (Maharani et. al., 2017).Kebiasaan burukKariesKaries gigi adalah penyakit yang paling umum terjadi pada semua penyakit anak-anak, dan jika tidak diobati, hal ini dapat menyebabkan banyak masalah seperti rasa sakit, penderitaan, kehilangan produktivitas – misalnya, di sekolah dan pengembangan keterbatasan fungsional dan sosial yang parah pada individu-individu yang menderita karies gigi (Lourenço et. al., 2013).

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out