Site Loader

KONSEP
DASAR DAN TEKNIK

MANAJEMEN
RISIKO PERBANKAN SYARIAH

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

A. 
PENDAHULUAN

Risiko
muncul ketika ada kemungkinan lebih dari satu hasil dan
hasil akhir tidak diketahui. Risiko dapat didefinisikan sebagai variabilitas
atau volatilitas dari hasil yang tak terduga. Hal ini biasanya diukur dengan
hasil standar deviasi. Meskipun semua perusahaan menghadapi ketidakpastian. Lembaga
keuangan menghadapi beberapa jenis risiko dalam kegiatan yang dilakukannya.
Tujuan lembaga keuangan adalah untuk memaksimalkan keuntungan dan nilai tambah
pemegang saham dengan menyediakan jasa keuangan yang berbeda terutama dengan
mengelola risiko.1

Sering
kali risiko muncul karena adanya lebih dari satu pilihan dan dampak dari tiap
pilihan tersebut belum dapat diketahui dengan pasti, sebagaiamana tidak
pastinya masa depan. Selalu ada opportunity cost yang membuntuti setiap
pilihan yang diambil. Dengan demikian, risiko bisa didefinisikan sebagai
konsekuensi atas pilihan yang mengandung ketidakpastian yang berpotensi
mengakibatkan hasil yang tidak diharapkan atau dampak negatif lainnya yang
merugikan bagi pengambil keputusan. Inilah definisi klasik dari risiko. Dari
definisi tersebut, risiko mengandung beberapa dimensi, yakni biaya peluang,
potensi kerugian atau dampak negatif lainnya, ketidakpastian, dan diperolehnya
hasil yang tidak sesuai harapan. Dengan berbagai demensi inilah risiko diukur,
dimitigasi, dan dimonitor selama proses bisnis berjalan.2

B. 
PEMBAHASAN

1.   
Bentuk-Bentuk Risiko3

Salah
satu prasyarat untuk dapat mengelola risiko dengan baik adalah dengan memahami
bentuk-bentuk risiko. Risiko dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebab
terjadinya atau dampak yang ditimbulkannya. Berdasarkan penyebab terjadinya,
risiko dibagi menjadi dua, yakni risiko non bisnis dan risiko bisnis. Risiko
nonbisnis muncul dari berbagai faktor yang tidak terkait dengan bisnis yang
dijalankan, namun dampaknya akan memengaruhi bisnis, seperti kebakaran, banjir,
polusi, gempa dan sebagainya. Risiko jenis ini termasuk dalam kelompok risiko
murni. Umumnya, bank memitigasi dampak risiko ini dengan mentransfer dan
berbagi risiko ke perusahaan asuransi (takaful) atau reasuransi (re-takaful)
melalui skema ta’awun. Sedangkan risiko bisnis muncul karena proses
bisnis yang dilakukan bank, seperti kesalahan saat membuat perencanaan,
kurangnya informasi saat pengambilan keputusan atau kurang optimalnya
pengelolaan aset bank.

Sementara
itu berdasarkan dampaknya, risiko dibagi menjadi dua. Pertama, risiko yang
dampaknya hanya ditanggung oleh proyek atau bank atau institusi tertentu,
terisolasi dan tidak merembet pada proyek atau institusi lain. Risiko ini
disebut dengan risiko unik, risiko nonsistematis (unsystematic risk),
atau risiko nonsistemis (unsystemic risk). Karena terisolasi, lazimnya
risiko ini terjadi akibat faktor-faktor yang hanya ada dan terjadi pada
individu bank atau institusi atau proyek tertentu, dan tidak pada selainnya.
Dalam membentuk suatu portofolio investasi, untuk meminimalakan total risiko
yang dihadapi, berdasarkan prinsip diversifikasi risiko, sering kali risiko
unik ini akan menjadi objek risiko yang harus diminimalisasi, dan kerenanya
disebut juga risiko yang dapat didiversifikasi (diversified risk).
Karena sangat spesifik, risiko ini disebut juga dengan istilah idiosyncratic
risk.

Kedua,
risiko yang dampaknya menyebabkan terjadinya efek domino, yakni menyeret proyek
atau institusi atau sektor atau bahkan negara lain untuk terkena dampak risiko
tersebut, atau berdampak pada keseluruhan pasar atau sistem yang ada. Lazimnya,
risiko ini muncul sebagai akibat adanya faktor risiko bersama di pasar dan
terjadinya hubungan interdependensi antar unit atau institusi atau sektor
ekonomi. Faktor risiko ini umumnya terkait dengan variabel makro-ekonomi atau
kondisi sektoral atau geografis atau indikator pasar lainnya. Risiko kedua ini
disebut dengan risiko pasar. Karena risiko ini berdampak pada semua intitusi
atau proyek yang ada dalam cakupan pasar atau sektor geografis tertentu, risiko
ini tidak mungkin dapat dihilangkan dengan pendekatan diversifikasi portofolio
investasi, kecuali jika keluar dari cakupan tersebut. Karenanya, risiko pasar
ini disebut juga dengan risiko yang tidak dapat dideversifikasi (undiversified
risk), risiko sistemis (systemic risk), atau risiko sistematis (systematic
risk).

 

 

 

Klasifikasi
risiko ini dapat ditunjukkan dalam gambar berikut:

                                                                            

 

 

                              

2.   
Risiko-Risiko yang Dihadapi Lembaga Keuangan4

a.     
 Risiko Pasar

                Adalah risiko yang berasal dari instrumen dan aset yang
diperdagangkan di pasar. Risiko pasar dapat hasil dari sumber makro dan mikro.
Risiko pasar sistematis hasil dari pergerakan harga keseluruhan dan kebijakan
di perekonomian. Risiko pasar sistematis muncul ketika perubahan harga khusus
aset atau instrumen karena terkait dengan instrumen atau aset. Volatilitas
harga di berbagai pasar memberikan berbagai jenis risiko pasar. Risiko pasar
dapat diklasifikasikan sebagai risiko harga ekuitas, bunga risiko bunga, risiko
valuta, dan risiko harga komoditas. Akibatnya, risiko pasar dapat terjadi di
kedua perbankan dan buku perdagangan bank. Sementara semua risiko tersebut
penting, tingkat suku bunga adalah salah satu risiko utama yang harus
khawatirkan oleh bank.

b.     
Risiko Suku Bunga

            Adalah pemaparan kondisi keuangan
bank untuk pergerakan suku bunga. Risiko dapat timbul dari sumber yang berbeda,
risiko ini muncul sebagai akibat terjadinya perubahan tingkat suku bunga.

c.      
Risiko Kredit

            Risiko kredit muncul akibat kegagalan
nasabah atau pihak lain dalam memenuhi liabilitas kepada bank Islam sesuai
kontrak. Risiko ini disebut juga risiko gagal bayar (default risk),
risiko pembiayaan (financing risk), risiko penurunan rating (downgrading
risk), dan risiko penyelesaian (settlement risk). Termasuk dalam
risiko kredit yaitu risiko konsentrasi pembiayaan.

d.     
Risiko Likuiditas

            Risiko likuiditas terjadi akibat
ketidakmampuan bank Islam dalam memenuhi liabilitas yang jatuh tempo. Untuk
memenuhi kebutuhan likuiditasnya, bank dapat menggunakan sumber pendanaan arus
kas dan aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan tanpa mengganggu
aktivitas dan kondisi keungan bank.

e.     
Risiko Operasional

Risiko
operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh pengendalian internal yang
kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia (human error),
kegagalan sistem, dan/ atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi
operasional bank. Selain itu, kegagalan memenuhi peraturan, disebut dengan
risiko kepatuhan (compliance risk), dan risiko bisnis sering kali
dimasukkan dalam kategori risiko operasional.

f.      
Risiko Hukum

            Risiko hukum muncul akibat adanya
tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini timbul antara lain
karena adanya tuntutan hukum dan ketiadaan peraturan perundang-undangan yang
mendukung atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya
kontrak atau pengikatan agunan yang tidak sempurna. Risiko ini tidak jauh
berbeda dengan yang dialami oleh bank konvensional.

 

3.   
Proses Manajemen Risiko

            Manajemen risiko adalah sebuah
proses. Sebagai sebuah proses, di dalamnya terdapat berbagai tahapan yang
saling berkaitan dan berulang untuk saling melengkapi dan menyempurnakan.
Proses manajemen risiko berjalan beriringan dengan proses bank Islam itu
sendiri dan menyatu dengan seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan oleh bank
Islam.

            Tujuan utama dari manajemen risiko
adalah untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan risiko dan bisnis bisa
diimplementasikan secara konsisten. Namun pada praktiknya, proses penerapan
manajemen risiko itu sendiri beberapa kali mengalami perubahan orientasi.
Praktik manajemen risiko klasik masih berorientasi pada penerapan batas risiko
(risk limit) yang konsisten sambil memastikan bahwa kegiatan bisnis
tetap menguntungkan. Praktik manajemen risiko modern tidak hanya mencakup
penerapan batas risiko konsisten, namun juga menggunakan berbagai ukuran risiko
dalam penentuan batas risiko dan menjalankan prinsip risk-adjusment
performance pada setiap lini bisnisnya. Jika manajemen risiko klasik,
pengelolaan risiko merupakan hal yang terpisah dari kegiatan bisnis perbankan,
namun pada manajemen risiko modern, pengelolaan risiko merupakan hal yang
koheren dengan proses bisnis perbankan. Risiko merupakan salah satu hal yang
menjadi dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijaka bisnis perbankan.

            Proses manajemen risiko merupakan
sebuah sistem yang komprehensif, termasuk di dalamnya menciptakan lingkungan
pengelolaan risiko yang tepat, mempertahankan pengukuran risiko yang efisien, proses
mitigasi dan monitoring, serta menyusun pengendalian internal yang
memadai. Terdapat lima tahap dalam proses manajemen risiko, yaitu identifikasi
risiko, pengukuran risiko, mitigasi risiko, monitoring risiko serta
pengendalian dan pelaporan risiko.5

 

 

a.     
Proses Identifikasi Risiko

            Merupakan sebuah proses untuk
menentukan risiko apa yang dapat terjadi, mengapa risiko tersebut dapat terjadi
dan bagaimana risiko itu terjadi. Proses identifikasi risiko harus dilakukan
secara menyeluruh. Identifikasi risiko perlu dilakukan secara menyeluruh.
Risiko yang melekat pada produk dan aktifitas bank dapat berbeda-beda. Begitu
pula dampaknya terhadap keuangan juga berbeda jenis dan jumlahnya. Identifikasi
risiko termasuk di dalamnya mendefinisikan perimeter dan jangkauan proses
manajemen risiko serta mengidentifikasi seluruh risiko yang potensial, proaktif
dalam analisis probabilitas, dan identifikasi kemungkinan mitigasi risikonya
jika telah ada.

b.     
Pengukuran Risiko

            Pengukuran risiko secara umum
terbagi dalam dua kegiatan besar, yakni mendeskripsikan dan menguantifikasi
risiko menggunakan probabilitas (pembentukan matriks risiko) serta mengestimasi
tingkat signifikansi risiko, batas toleransi bank terhadap risiko, dan analisis
biaya-manfaat.

            Meskipun proses identifikasi risiko
telah dilakukan, menguantifikasi risiko menggunakan probabilitas (membentuk
matrik risiko) adalah sebuah tantangan yang harus dilewati sebelum risiko dapat
ditukar. Ada beberapa hal yang menyebabkan risiko sulit dikuantifikasi dan
diukurt. Pertama, risiko tidak akan terlihat sebelum kejadin kerugian terjadi (even
losses). Risiko tidak didefinisikan dalam pernyataan kemungkinan rugi akan
tetapi meliputi satuan frekuensi, ukuran, dan besarnya untuk recovery.

            Kedua, model manajemen risiko dibutuhkan
untuk menguantifikasi risiko. Risiko pada dasarnya merupakan wujud dari
ketidakpastian. Oleh karenanya, tidak ada satu usahapun yang dapat memprediksi
terjadinya risiko dengan akurasi sempurna. Namun, bukan berarti risiko tidak
dapat diukur. Model manajemen risiko digunakan agar risiko dapat diprediksi,
diperkirakan, dan diukur sehingga proses pengambilan keputusan dapat
berlangsung secara objektif. Ketiga, risiko dalam institusi perbankan sangat
berbeda dengan risiko yang dihadapi perusahaan pada umumnya. Walupun ilmu
tentang risiko berawal dari pasar modal dan perusahaan umum, namun tidak
selurunya dapat diterapkan untuk menangkap berbagai risiko pada institusi
perbankan. Hal tersebut disebabkan karena karekteristik bisnis perbankan sangan
berbeda dengan perusahaan umum nonkeuangan.

c.      
Proses Mitigasi Risiko

            Ketika suatu risiko tejadi, terdapat
beberapa kemungkinan respons dan tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi
risiko tersebut. Pertama, bank dapat memutuskan untuk menghindari risiko.
Menghindari risiko dipilih sebagai respons terhadap risiko yang dihadapi, di
mana bank menganggap biayanya lebih murah dibandingkan harus melakukan tindakan
lainnya. Kedua, bank dapat memutuskan untuk mentransfer risiko yang dihadapinya
kepada pihak ketiga, seperti perusahaan takaful. Hal ini biasanya
terkait dengan risiko murni yang menimbulkan kerugian fisik, seperti kebakaran,
kecelakaan kerja, dan lainnya. Ketiga, bank dapat melakukan mitigasi risiko
ketika risiko yang dihadapi mustahil untuk dihindari ataupun ditransfer kepada
pihak ketiga. Bank tidak mungkin menghindat karena risiko tersebut melekat
langsung pada proses bisnis dan sulit ditransfer karena tidak adanya lembaga
khusus yang mau menerima jenis risiko tersebut, dan kalaupun ada, biaya yang
harus dikeluarkan sangat mahal. Dan keempat, bank bisa membiarkan saja
risiko-risiko yang dihadapinya terjadi dan menimbulkan kerugian. Namun,
tindakan ini biasanya berlaku untuk jenis risiko tertentu yang dampak
kerugiannya sangat rendah dan tidak memengaruhi aktivitas bisnis bank.

d.     
Proses Review Risiko

            Dalam proses manajeman risiko,
terdapat proses evaluasi risiko setelah analisi risiko dilakukan. Evaluasi
risiko merupakan proses yang sangat penting karena akan menentukan langkah dan
tindakan yang dapat diambil manajemen untuk mengelola risiko tersebut. Tujuan
dilakukannya evaluasi dan review risikoadalah untuk membantu proses
pengambilan keputusan, berdasarkan analisis yang didapatkan dari analisis
risiko, untuk menentukan berbagai kebijakan terkait perlakuan terhadap risiko
dan prioritas pengelolaan risiko yang harus dilakukan.

            Pada tahap evaluasi dan review
risiko, tingkat risiko aktual yang terjadi pada bank Islam dimonitor dan
dibandingkan dengan berbagai ketentuan risiko yang telah ditetapkan sebelumnya,
seperti risk tolerance level, risk limit, dan sebagainya. Ketidakcocokan
yang terjadi antara kondisi aktual dan kebijakan risiko bisa berarti dua hal.
Pertama, terjadinya pelanggaran terhadap kebijakan manajemen risiko. Kedua,
kebijakan risiko yang telah ditetapkan sudah out of update sehingga
harus direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

4.   
Perangkat Formal dan Struktur Organisasi6

            Seperti yang disinggung sebelumnya,
manajemen risiko merupakan proses yang berkelanjutan. Karenanya, implementasi manajemen
risiko tidak mungkin dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan satu orang atau
beberapa orang tertentu yang ada di bank. Pada bank yang baru menerapkan
manajemen risiko, kebijakan risiko biasanya masih sangat tergantung dari
individu tertentu yang ada di dalam bank. Manajemen risiko belum terwujudkan
secara formal dalam struktur organisasi, kebijakan, dan budaya bank. Namun,
lambat laun, seiring dengan kematangan bank dalam menerapkan manajemen risiko,
proses manajemen risiko akan dapat menyatu dengan seluruh aktivitas bank.

            Oleh karenanya, untuk memastikan
bahwa manajemen risiko dapat berjalan baik, diperlukan serangkain prosedur
adminitrasi dan organisasi yang bertujuan untuk mendukung proses implementasi
manajemen risiko. Bank Islam harus memiliki kebijakan manajemen risiko, piagam
manajemen risiko, standar prosedur operasional, infrastruktur dan proses
manajemen risiko. Selain itu, diperlukan adanya satu unit khusus dalam struktur
organisasi bank Islam yang ditugaskan untuk menjalankan manajemen risiko dan
memantau proses implementasi manajemen risiko pada bank Islam. Bentuk struktur
organisasi yang didalamnya telah memasukkan unit pelaksana manajemen risiko
adalah sebagai berikut.

 

 

Gambar Struktur Organisasi dengan Unit Risiko

           

    

 

 

 

 

Sumber: P. Jorion, 2003, Financial
Risk Management Handbook.

            Departemen
atau unit manajemen risiko memiliki tanggung jawab untuk memastikan
implementasi manajemen risiko secara komprehensif. Namun, kebijakan manajemen
risiko tetap menjadi wilayah pengambilan keputusan manajemen puncak dan
implementasinya disebarkan secara merata kepada seluruh departemen dan unit
bisnis yang ada di struktur organisasi bank Islam.

 

C. 
KESIMPULAN

Risiko
muncul ketika ada kemungkinan lebih dari satu hasil dan
hasil akhir tidak diketahui. Sering kali risiko muncul karena adanya lebih dari
satu pilihan dan dampak dari tiap pilihan tersebut belum dapat diketahui dengan
pasti, sebagaiamana tidak pastinya masa depan. Selalu ada opportunity cost
yang membuntuti setiap pilihan yang diambil. Dengan demikian, risiko bisa
didefinisikan sebagai konsekuensi atas pilihan yang mengandung ketidakpastian
yang berpotensi mengakibatkan hasil yang tidak diharapkan atau dampak negatif
lainnya yang merugikan bagi pengambil keputusan.

Proses
manajemen risiko merupakan sebuah sistem yang komprehensif, termasuk di
dalamnya menciptakan lingkungan pengelolaan risiko yang tepat, mempertahankan
pengukuran risiko yang efisien, proses mitigasi dan monitoring, serta
menyusun pengendalian internal yang memadai.

Tujuan
utama dari manajemen risiko adalah untuk memastikan bahwa seluruh kebijakan
risiko dan bisnis bisa diimplementasikan secara konsisten. Untuk memastikan
bahwa manajemen risiko dapat berjalan baik, diperlukan serangkain prosedur
adminitrasi dan organisasi yang bertujuan untuk mendukung proses implementasi
manajemen risiko. Bank Islam harus memiliki kebijakan manajemen risiko, piagam
manajemen risiko, standar prosedur operasional, infrastruktur dan proses
manajemen risiko.

 

REFERENSI:

Khan, T. dan Ahmed, H. 2001. Risk
Management: An Analysis of Issues in Islamic financial Industri, Jeddah:
Islamic Research and Trainning Institute.

Imam Wahyudi,
Miranti K.D., Fenny R., Muhammad B.P., Niken Iwani, Banu M. Haidir, 2013 Manajemen
Risiko Bank Islam, Jakarta: Salemba Empat.

 

 

 

 

 

1
Tariqullah
Khan, Habib Ahmed, Risk Management: An Analysis of Issues in Islamic
Financial Industri (Jeddah: Islamic Development Bank, Islamic Research and
Trainning Institute, 2001), hlm. 25

2
Wahyudi,
Miranti K.D., Fenny R., Muhammad B.P., Niken Iwani, Banu M. Haidir, Manajemen
Risiko Bank Islam (Jakarta: Salemba Empat, 2013), hlm. 3.

3
Ibid.,
hlm.
4.

4
Ibid., hlm. 25.

5
Ibid., hlm. 59.

6
Ibid., hlm. 75.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out